



"Tutup matamu...dan lihatlah bintang-bintang yang bersinar terang...indah bukan?".
Itulah saran yang biasa teman spesial beri pada saya jika saya belum berhasil melihat bintang pada malam hari dengan mata telanjang.(suara lembutnya masih teringat juga..^_^)
Teman spesial saya ini memang sangat menyukai bintang.Baginya,melihat bintang secara langsung maupun melalui imajinasi adalah suatu kenikmatan tersendiri.
Bicara mengenai bintang,tentu merupakan hal yang tidak asing lagi bagi pembaca.Sering kita menjumpai istilah yang diasosiasikan dengan bintang dengan makna konotatif.Seperti bintang kelas,perang bintang,bintang lima,dan sebagainya..
Ngomong-ngomong,apa sih bintang itu sebenarnya?
Bintang merupakan entitas (sesuatu) langit yang memancarkan cahaya sendiri.Menurut ilmu astrofisika,bintang adalah semua benda masif (dengan massa 0,08 sampai 200 kali massa matahari)yang pernah dan sedang melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir.
Makanya baik bintang-bintang yang sedang pembaca lihat di langit (bukan dengan imajinasi) atau yang sudah tidak memancarkan sinar lagi (contohnya:bintang katai atau bintang netron) masih tetap diberi label bintang.Oiya,matahari yang teramati dari bumi tercinta kita ini juga bintang,lho..jaraknya sekitar 149.680. 000 kilometer.Matahari adalah bintang terdekat dari bumi,diikuti dengan Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus yang jaraknya empat tahun cahaya dari bumi kita.
Tidak cuma teman spesial saya saja yang suka melihat bintang-bintang di malam hari,tapi jauh sebelum dia lahir,ada ilmuwan-ilmuwan yang sangat hobi mengamati bintang dengan kacamata ilmiah.Sebut saja Tyco Brahe.Beliau telah menemukan bintang-bintang baru (disebut novae).Dari hasil pengamatan bintang-bintang itu,beliau menyimpulkan bahwa langit tidak kekal.Pada tahun 1584 seorang ilmuwan bernama Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah matahari-matahari lain,dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti bumi dalam orbitnya.Ide ini sebenarnya telah diusulkan oleh filsuf yunani kuno seperti Democritus dan Epicurus.Pada abad berikutnya matahari disepakati sebagai bintang.
Isaac Newton,fisikawan terkenal sebelum era kuantum,mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di seluruh langit untuk menjelaskan alasan bintang-bintang tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya.Usulan Newton ini berasal dari sebuah ide seorang teolog bernama Richard Bentley.
Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bintang Algol pada 1667. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat, memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Pengukuran langsung jarak bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks.
William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bintang di langit. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit, yakni pusat galaksi Bima Sakti. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis pandang, melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda.
Oiya,pembaca,cahaya yang memancar dari bintang itu berasal dari energi.
Energi yang dihasilkan bintang, sebagai hasil samping dari reaksi fusi nuklir, dipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang dimanifestasikan sebagai angin bintang (yang berwujud sebagai pancaran tetap partikel-partikel bermuatan listrik seperti proton bebas, partikel alpha dan partikel beta yang berasal dari bagian terluar bintang) dan pancaran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang.
Hampir semua informasi yang kita miliki mengenai bintang yang lebih jauh dari Matahari diturunkan dari pengamatan radiasi elektromagnetiknya, yang terentang dari panjang gelombang radio hingga sinar gamma. Namun tidak semua rentang panjang gelombang tersebut dapat diterima oleh teleskop landas Bumi. Hanya gelombang radio dan gelombang cahaya yang dapat diteruskan oleh atmosfer Bumi dan menciptakan ‘jendela radio’ dan ‘jendela optik’. Teleskop-teleskop luar angkasa telah diluncurkan untuk mengamati bintang-bintang pada panjang gelombang lain.
Banyaknya radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh bintang dipengaruhi terutama oleh luas permukaan, suhu dan komposisi kimia dari bagian luar (fotosfer) bintang tersebut. Pada akhirnya kita dapat menduga kondisi di bagian dalam bintang, karena apa yang terjadi di permukaan pastilah sangat dipengaruhi oleh bagian yang lebih dalam.
Dengan menelaah spektrum bintang, astronom dapat menentukan temperatur permukaan, gravitasi permukaan, metalisitas, dan kecepatan rotasi dari sebuah bintang. Jika jarak bisa ditentukan, misal dengan metode paralaks, maka luminositas bintang dapat diturunkan. Massa, radius, gravitasi permukaan, dan periode rotasi kemudian dapat diperkirakan dari pemodelan. Massa bintang dapat juga diukur secara langsung untuk bintang-bintang yang berada dalam sistem bintang ganda atau melalui metode mikrolensing. Pada akhirnya astronom dapat memperkirakan umur sebuah bintang dari parameter-parameter di atas.
Karena jaraknya yang sangat jauh, semua bintang (kecuali Matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfer Bumi. Diameter sudut bintang bernilai sangat kecil ketika diamati menggunakan teleskop optik landas bumi, hingga diperlukan teleskop interferometer untuk dapat memperoleh citranya. Bintang dengan ukuran diameter sudut terbesar setelah Matahari adalah R Doradus, dengan 0,057 detik busur.
Sebuah katai putih yang sedang mengorbit Sirius (konsep artis). citra NASA.
Telah lama dikira bahwa kebanyakan bintang berada pada sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Kenyataan ini hanya benar untuk bintang-bintang masif kelas O dan B, dimana 80% populasinya dipercaya berada dalam suatu sistem bintang ganda atau pun multi bintang. Semakin redup bintang, semakin besar kemungkinannya dijumpai sebagai sistem tunggal. Dijumpai hanya 25% populasi katai merah yang berada dalam sebuah sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. Karena 85% populasi bintang di galaksi Bimasakti adalah katai merah, maka tampaknya kebanyakan bintang di dalam Bimasakti berada pada sistem bintang tunggal.
Sistem yang lebih besar yang disebut gugus bintang juga dijumpai. Bintang-bintang tidak tersebar secara merata mengisi seluruh ruang alam semesta, tetapi terkelompokkan ke dalam galaksi-galaksi bersama-sama dengan gas antarbintang dan debu. Sebuah galasi tipikal mengandung ratusan miliar bintang, dan terdapat lebih dari 100 miliar galaksi di seluruh alam semesta teramati.
Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstiliun (7×1022) bintang di seluruh alam semesta yang teramati. Ini berarti 70 000 000 000 000 000 000 000 bintang, atau 230 miliar kali banyaknya bintang di galaksi Bimasakti yang berjumlah sekitar 300 miliar.
Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri, berjarak 39.9 triliun (1012) kilometer, atau 4.2 tahun cahaya. Cahaya dari Proxima Centauri memakan waktu 4.2 tahun untuk mencapai Bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal di dalam sebuah piringan galaksi. Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galasi dan di dalam gugus bola, atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi.
Karena kerapatan yang rendah di dalam sebuah galaksi, tumbukan antar bintang jarang terjadi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bintang atau lingkungan sekitar pusat galaksi, tumbukan dapat sering terjadi. Tumbukan seperti ini dapat menghasilkan pengembara-pengembara biru yaitu sebuah bintang abnormal hasil penggabungan yang memiliki temperatur permukaan yang lebih tinggi dibandingkan bintang deret utama lainnya di sebuah gugus bintang dengan luminositas yang sama. Istilah pengembara merujuk pada jejak evolusi yang berbeda dengan bintang normal lainnya pada diagram Hertzsprung-Russel.
Sebenarnya pembahasan mengenai bintang itu tiada habis-habisnya.Masih ada istilah evolusi bintang,kelahiran bintang,kematian bintang dan sebagainya.Pembaca bisa nikmati di postingan -postingan ke depan,tentu saja blog saya.
Nikmati juga foto-foto bintangnya.Kalau mau,pembaca juga bisa mempraktikan saran teman spesial saya."Tutup matamu...lihatlah,bintang yang di tengah indah,ya...?"